100% Bebas Asap Rokok

May 31, 2007 at 12:53 am 18 comments

Halooowwww
Sebuas buasnya harimau tidak akan memakan anaknya sendiri, betulllll ?
Sekejam kejamnya perampok tidak pingin anaknya jadi perampok juga, betullll ?
Sehina hinanya pelacur tidak mau anaknya jadi pelacur juga, betullll ?
Secandu candunya perokok tidak rela anaknya jadi perokok juga, betulll ?
Betul apa tidak ?
Halooowwww … ?

Secandu-candunya anggota DPR merokok tidak akan rela rakyatnya jadi pecandu rokok juga, betulll ?
Secandu-candunya anggota DPR merokok tidak akan membuat UU Pengendalian dampak Produk Tembakau terhadap Kesehatan yang merugikan rakyat, betulll ?
Eh kalau yang ini betul tidaks™ ya ? Halooowwww … ?

Peta Perokok di Kalangan Wakil Rakyat di Senayan,
Departemen Kesehatan RI baru-baru ini merilis sebuah hasil survei mengenai perokok. Survei itu menjadi menarik karena yang menjadi objek penelitian adalah anggota DPR RI. Apalagi, saat ini para wakil rakyat tersebut mendapat desakan publik untuk segera merampungkan draf RUU tentang Pengendalian Dampak Produk Tembakau terhadap Kesehatan.
Survei dilakukan dengan membandingkan antara anggota dewan yang perokok (smoke) dan yang bukan perokok (not smoke). Dari riset itu, ditemukan fakta bahwa persentase perokok tertinggi berada di Fraksi Partai Golkar. Hampir 60 persen anggota partai tersebut perokok. Urutan selanjutnya adalah Fraksi Kebangkitan Bangsa (FKB) yang mencapai angka 55 persen.

Berturut-turut selanjutnya, FPAN (42 persen), FPDIP (38 persen), FBPD (36 persen), FPPP (28 persen), FPD (24 persen), dan FPBR (15 persen). Sedangkan FPKS dan FPDS mengukir prestasi luar biasa, yaitu nol persen. Artinya, tak ada satu pun kader PKS dan PDS di parlemen yang perokok.


Dari Tabel bisa dilihat jumlah anggota DPR yang perokok, tertinggi ada pada Fraksi Golkar sebanyak 77 orang, diikuti oleh Fraksi PDIP sebanyak 41 orang dan Fraksi PKB sebanyak 29 orang.

Masih ada harapan ?

Walau pemilu 2009 masih jauh, angka-angka tadi bisa menjadi acuan bagi kita yang peduli dengan kesehatan. Logikanya sederhana aja, kalau saya anggota DPR, perokok dan membuat UU tentang pengendalian rokok, saya pasti tidak akan membuat UU yang merugikan hobi saya untuk merokok. Betullll ????? Halowwwww …..

Sebagai anggota DPR yang hobi ngerokok, bagaimana mungkin saya meloloskan UU yang mengharuskan produsen rokok menempelkan gambar-gambar seram di bungkus rokok favorit saya seperti gambar dibawah ini nih😀 … Sory sory lah yawwww😛


Jadi mulai dari sekarang, catet itu. Jangan pilih parte yang punya budaya merokok

Entry filed under: islam, komentar. Tags: .

alasan wadehel mematikan ID wadehel Tips Neo template

18 Comments Add your own

  • 1. miss phu  |  May 31, 2007 at 4:51 am

    nice article ^_^,
    taphi mmg apa hubungannya milih partai dengan budaya merokok/tidak para anggotanya ?

    binun😕

  • 2. ucha  |  May 31, 2007 at 8:07 am

    Saya tidak suka merokok. Dan sama sekali tidak menemukan manfaat dari rokok. Do they think the same?

  • 3. -MaIDeN-  |  May 31, 2007 at 10:33 am

    @miss phu,

    …. kalau saya anggota DPR, perokok dan membuat UU tentang pengendalian rokok, saya pasti tidak akan membuat UU yang merugikan hobi saya untuk merokok. Betullll ????? Halowwwww …..

    Sebagai anggota DPR yang hobi ngerokok, bagaimana mungkin saya meloloskan UU yang mengharuskan produsen rokok menempelkan gambar-gambar seram di bungkus rokok favorit saya seperti gambar dibawah ini nih … Sory sory lah yawwww😛

    @ucha,
    Barangkali karena merokok itu nikmat😀

  • 4. dani iswara  |  May 31, 2007 at 2:39 pm

    sebaiknya tetap diliat dr persennya, bukan angka mutlak..

    jujur ngga ya ngisinya..😀 [siapa tahu..?]

    jika mendengar suara ‘yg hidup dari tembakau/rokok’, mslh sptnya akan mjd cukup berat..

    dr sudut kesehatan generasi skrg & akan dtg → tdk ada tawar menawar!

  • 5. Kang Kombor  |  May 31, 2007 at 5:21 pm

    Setahuku orang-orang PKS memang tidak merokok. Mangkanya Kang Kombor tidak bisa jadi kader PKS.

    Di samping mudharatnya, rokok juga punya andil dalam menghidupi ribuan manusia (mungkin jutaan kalau dihitung sampai titik distribusi terakhir alias pengecer) dan juga andil terhadap pembangunan dalam hal pembayaran cukai.

  • 6. -MaIDeN-  |  May 31, 2007 at 10:16 pm

    @dani,

    Ya, beruntunglah anggota dewan yang merokok hanya 38% saja dari total 550 seluruh anggota dewan.
    RUU PENGENDALIAN PRODUK TEMBAKAU BELUM JADI PRIORITAS DPR,
    Wakil Ketua DPR dari FPKB, Muhaimin Iskandar menegaskan, RUU Pengendalian Dampak Produk Tembakau Terhadap Kesehatan (PDPTTK) belum menjadi prioritas untuk dibahas DPR. Meski RUU tersebut diusulkan oleh 224 anggota Dewan, tetapi belum masuk program legislasi nasional.

    @kang kombor,

    Saya juga perokok lho koq kang😀

    Rokok dan Kemiskinan,
    Salah satu pokok pikiran yang mendasari pentingnya RUU ini, menurut Hakim, adalah kaitan erat antara rokok dan kemiskinan. Sebagian besar dari ratusan miliar batang rokok yang diproduksi tahun ini, sebanyak 220-225 miliar batang, diserap oleh kaum miskin. “Rokok dinikmati kalangan menengah ke bawah,” katanya.

    Dengan kata lain, Hakim melanjutkan, penyumbang terbesar pendapatan industri rokok adalah orang miskin.
    Hakim merujuk data Survei Ekonomi Nasional Badan Pusat Statistik. Pada 2001, kelompok berpenghasilan tertinggi membelanjakan 7,47 persen uangnya untuk membeli rokok. Bandingkan dengan proporsi belanja rokok pada kelompok berpenghasilan terendah, yang mencapai 9,1 persen.

    Masih mengutip data BPS, masyarakat miskin cenderung mengorbankan alokasi belanja bahan kebutuhan pokok keluarga–termasuk beras, susu, telur, dan daging–demi tetap mempertahankan kebiasaan merokok. Pada 1999, proporsi belanja makanan pokok keluarga miskin, yang 28 persen, turun menjadi 19 persen pada 2003. Pada periode yang sama, proporsi belanja rokok keluarga miskin justru meningkat, dari 8 menjadi 13 persen.

    Walhasil, “Bisa dimengerti bila terjadi penurunan kualitas kesehatan masyarakat,” kata Hakim. Komisi Nasional Penanggulangan Masalah Merokok juga menyatakan biaya kesehatan yang terkait dengan masalah merokok mencapai Rp 14,5 triliun.

    Sementara itu, Indonesian Forum on Parliamentarians for Population and Development (IFPPD) menghitung simulasi belanja rokok pada keluarga miskin. Menurut survei BPS, “Dua dari tiga ayah di Indonesia adalah perokok,” kata Sri Utari Setyawati dari IFPPD.

    Lembaga ini memperkirakan, dengan merujuk pada data, ada 19 juta keluarga miskin. Dari angka itu, 12 juta ayah dari keluarga miskin adalah perokok. “Mereka membelanjakan Rp 23 triliun setiap tahun untuk rokok.” Ini pun dengan menggunakan penghitungan moderat, yakni rata-rata 10 batang rokok diisap setiap hari.

  • 7. Evy., DDS., OMFS  |  June 1, 2007 at 2:53 am

    yeiks…gambar mulutnya parah..udah merokok ga pernah sikatan pulak… untung pake masker… hihihi… nice posting sayang cuman setahun sekali ya…

  • 8. Shirei  |  June 2, 2007 at 11:42 am

    ambil aja kalau U mau. Aku jg minta dr temenku. aku anti rokok dan paling benci perokok yg merokok di tempat umum

  • 9. ati  |  June 2, 2007 at 3:35 pm

    hi,artikel yang bagus.

  • 10. siu  |  June 4, 2007 at 1:54 am

    setuju….eh maiden kok bisa dapet gambar sangar gitu see..?kl ada bungkus rokok bergambar spt itu, kayaknya gak perlu ada peringatan “merokok dapat menyebabkan…bla..bla..” soalnya mau ngrokok udah eneg duluan ya? tp kalo msh ada yg nekat ngrokok dengan rokok bergambar itu…yah…selamat deh anda layak ikut “fear factor”…huahahaha…

  • 11. blaik  |  June 4, 2007 at 3:14 am

    fotone sangar …😦

  • 12. Kana Haya  |  June 4, 2007 at 6:48 am

    ayah Na merokok. susah banget disuruh berentinya. si Gentong juga merokok. sama. udah diomelin berkali2 tetep ajah ga bisa berenti merokok. serba salah untuk setiap usaha pengehntian merokok ini. karena kalo pabrik rokok tutup, pekerjanya bagaimana? kecuali ada yang bersedia membantu dengan membuka lahan pekerjaan baru. tapi itu pun mungkin gak semuanya bakal bisa tertampung tokh??? serba salah kan?

  • 13. MaIDeN  |  June 4, 2007 at 7:48 am

    @evy,
    Pesan pada gambar, merokok bisa bikin gigi coklat item😀 Btw, iya emang disayangkan cuman setahun sekali. LSM yang peduli ini sudah ada belum ya ?

    @shirei & ati,

    Thank’s

    @siu & blaik,

    Tulisan di rokok, itu bahasa thailand. Kok mereka bisa ya bikin aturan kayak itu ?

    @kanahaya,
    +”Menurut survei BPS, “Dua dari tiga ayah di Indonesia adalah perokok,”

    Lembaga ini memperkirakan, dengan merujuk pada data, ada 19 juta keluarga miskin. Dari angka itu, 12 juta ayah dari keluarga miskin adalah perokok. “Mereka membelanjakan Rp 23 triliun setiap tahun untuk rokok.” Ini pun dengan menggunakan penghitungan moderat, yakni rata-rata 10 batang rokok diisap setiap hari.”

    +”Komisi Nasional Penanggulangan Masalah Merokok juga menyatakan biaya kesehatan yang terkait dengan masalah merokok mencapai Rp 14,5 triliun.”

    sumber: Rokok dan kemiskinan,

    + Comment dari dokter dani, “dr sudut kesehatan generasi skrg & akan dtg → tdk ada tawar menawar!”

  • 14. wku  |  June 4, 2007 at 1:30 pm

    aku juga nulis tentang rokok loh…:)

  • 15. NiLA Obsidian  |  June 4, 2007 at 6:13 pm

    setujuuuuuuuuuu………semoga perokok pasif seperti saya bisa bikin partai yg memenangi partai perokok…heuheuheu….

  • 16. Anonymous  |  June 6, 2007 at 5:17 am

    sep sep..setuju, pilih parte yang gak merokok..

    [cempluk >> http://andibagus.blogspot.com%5D

  • 17. anas  |  June 7, 2007 at 9:30 am

    Setuju kang klo kita pilih mereka negeri ini nga’ akan bebas sama budaya ngrokok yang merusak bangsa.

  • 18. mbah keman  |  June 9, 2007 at 6:03 am

    semua ora sebenarmya tau rokok gak baik.tapi tidak semua orang tau ada kenikmatan tersendiri di balik…dan semua juga tau kalau di balik setiap kenikmatan ada bayaran

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Feeds

Top Clicks

  • None

%d bloggers like this: